Selasa, 25 November 2014

HADITS MUSALSAL DAN ‘ALI WA NAZIL

Doc: Internet

Disusun oleh:
Lutfil Chakim (134211015)
Siti Fatihatul Ulfa(134211028)


       I.            PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Para Muhadditsin meneliti dan menganalisis sanad karena kajian atas sanad telah banyak sekali mengantarkan kepada keberhasilan kritik atas matan, bahkan kritik matan tidak mungkin berhasil tanpa melalui kajian sanad.Para ‘Ulama telah berupaya keras menelusuri dan meneliti sanad, sehingga mereka mengadakan perlawatan ke berbagai negara dan menempuh perjalanan ke berbagai penjuru dunia dengan segala resikonya hanya untuk menemukan suatu sanad atau untuk meneliti sanad yang rumit bagi mereka.
Cabang-cabang mushthalah hadits yang berkitan dengan sanad adakalanya merupakan kajian sanad yang bersambung atau tidak bersambungnya. Adapun tela’ah atas sanad dari segi bersambung dan tidak bersambungnya di uraikan dalam dua bagian, yaitu: kajian tentang sanad yang bersambung dan kajian sanad yang tidak bersambung. Dalam kajian sanad yang bersambung terdapat beberapa hadis seperti hadis muttashil, hadis musnad, hadis mu’an’am, hadis mu’annan, hadis musalsal, hadis ‘ali, hadisnazil, dan tambahan rawi pada sanad muttashil. Di dalam makalah ini penulis ingin menjelaskan lebih detail dalam pembahasan hadis musalsal dan hadis ‘ali hadis nazil.

B.     Rumusan Masalah
Didalam makalah ini kami akan menjelaskan tentang hadits Musalsal dan ‘Ali wa Nazil.

      II.            PEMBAHASAN
1.   Hadits Musalsal
A.   Pengertian Hadits Musalsal
Musalsal artinya yang terangkai atau yang berangkai.[1]Menurut bahasa musalsal berasal dari kataيُسَلْسِلُ,سَلْسَلَةٌ ,سَلْسَلَyang berarti berantai dan bertali menali. Hadis ini dinamakan musalsal karena ada kesamaan dengan rantai (silsilah) dalam segi pertemuan pada masing-masing perawi atau ada kesamaan dalam bagian-bagiannya.
Lebih luas Al-Iraqi memberikan definisi musalsal adalah hadis yang perawinya dalam sanad berdatangan satu persatu dalam satu bentuk keadaan atau dalam satu sifat, baik sifat para perawi maupun sifat penyandaran (isnad) baik terjadi pada isnad dalam bentuk penyampaian periwayatan (ada’ ar-riwayah) maupun berkaitan dengan waktu dan tempatnya, baik keadaan para perawi maupun sifat-sifat mereka, dan baik perkataan maupun perbuatan.
Dengan demikian hadis musalsal adalah hadis yang secara berturut-turut sanad-nya sama dalam satu sifat atau dalam satu keadaan dan atau dalam satu periwayatan.[2]
Musalsal dalam pembicaraan ilmu Hadits adalah “Satu Hadits yang rawi-rawinya atau jalan meriwayatkannya berturut-turut atas satu keadaan”
Yang dikatakan musalsal pada rawi-rawinya ialah :
a.         Sama nama-namanya, tetapi berlainan orangnya.
Contoh : semua rawi bernama Ahmad, tetapi yang satu Ahmad bin Ibrahim, yang lain Ahmad bin Salim dan lainnya.
b.         Sama tentang sifatnya.
Contoh : semua rawi ahli fiqh atau ahli hadits, atau imam-imam.
c.         Sama nasib mereka.
Contoh : semua rawi orang Mekkah atau orang Madinah dan sebagainya.
d.        Berturut-turut keluarga meriwayatkan dari keluarga.
Contoh : anak meriwayatkannya dari bapak, bapak dari datuk, datuk dari saudaranya, selanjutnya sampai penghabisan sanad.

Adapun musalsal dalam jalan meriwayatkannya,[3]adalah :
a.         Lafazh-lafazh sanadnya semua sama.
Contoh : semua rowi berkata: “aku telah mendengar” atau “telah mengkhabarkan kepada kami” atau “telah menceritakan kepada kami” atau dalam sanadnya semua pakai perkataan (عَنْ) "dari".
b.         Dalam meriwayatkannya itu, semua rawi pakai sumpah.
Contoh : “wallahi”, “billahil-‘azhim” dan sebagainya.
c.         Sama hari meriwayatkannya.
Contoh : Nabi sabdakan satu ucapan pada hari raya, lalu sahabat yang mendengar, sampaikannya pada hari raya juga.
d.        Sama tempat meriwayatkannya.
Contoh : Nabi bersabda di ‘Arafah. Sahabat yang mendengar sampaikan sabda Nabi itu di ‘Arafah juga.Rawi yang mendengar itu, sampaikan kepada rawi di ‘Arafah, sehingga akhir sanad.
e.         Kelakuan dan keadaan yang sama, yakni semua rawi kerjakan sebagaimana yang pertama.
B.       Macam-macam Musalsal
1.      Musalsal keadaan perawi (musalsal bi ahwal ar-ruwat)
Musalsal keadaan perawi terkadang dalam perkataan (qawli), perbuatan (fi’li), atau keduanya (perkataan dan perbuatan atau qawli dan fi’li).
Contoh musalsal qawli :
حَدِيْثُمُعَاذِبْنِجَبَلِأَنَّالنَّبِيصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَقَالَلَهُ : يَامُعَاذُإِنِّيأُحِبُّكَ, فَقُلْفِيْدُبُرِكُلِّصَلَاةِ : اَلَّلهُمَّأَعِنِّيعَلَىذِكْرِكَوَشُكْرِكَوَحُسْنِعِبَادَتِكَ.
Artinya :“Hadis Mu’adz bin Jabal, bahwasannya Nabi Muhammad SAW brsabda kepadanya : Hai Mu’adz sesungguhnya aku mencintaimu, maka katakanlah pada setiap setelah shalat : Ya Allah Tolonglah aku untuk dzikir kepada-Mu, syukur kepada-Mu, dan baik dalam ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud).
Hadis di atas musalsal pada perkataan setiap perawi ketika menyampaikan periwayatan dengan ungkapan :sesungguhnya aku mencintaimu, maka katakan di setiap selesai shalat. Setiap perawi yang menyampaikan perawi hadis ini selalu memulai dengan kata-kata tersebut sebagaimana yang dilakukan Rosulullah terhadap Mu’adz.
Contoh musalsal fi’li (perbuatan) :
حَدِيْثُأَبِيهُرَيْرَةَقَلَ : شَبَّكَبِيَدِيْأَبُوالْقَاسِمِصَلَّاللّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَوَقَالَ : خَلَقَالَلهُالَأرْضَيَوْمَالسَّبْتِ.
Artinya :“Hadis Abu Hurairah dia berkata : Abu Al-Qasim memasukkan jari-jari tangannya kepada jari-jari tanganku (jari jemari) bersabda : Allah menciptakan bumi pada hari sabtu”. (HR. Al-Hakim)
          Setiap perawi yang menyampaikan periwayatannya selalu jari jemari terhadap orang yang menerima hadis tersebut sebagaimana yang dilakukan Rasulullah.
          Contoh musalsal qawli dan fi’li sekaligus ialah :
حَدِيْثُأَنَسِبْنِمَالِكِرضياللّهعنهقَالَ : قَالَرَسُوْلُاللُهصَلَّاللَهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ : لَايَخِدُالْعَبْدُحَلَاوَةَالْإِيْمَانِحَتَّىيُؤْمِنَبِالْقَدَرِخَيْرِهِوَشَرَّهِ, حُلْوِهِوَمُرِّهِ, وَقَبَضَرَسُوْلُاللَّهصَلَّىاللًهُعَلَيْهِوَسَلَّمَعَلَىلِحْيَتِهِوَقَالَآمَنْتُبِالْقَدَرِخَيْرِهِوَشَرِّهِ, حُلْوِهِوَمُرِّهِ.
Artinya :“Hadis Anas bin Malik Berkata : Rasulullah bersabda : seorang hamba tidak mendapatkan manisnya iman sehingga beriman kepada ketentuan Allah (qadar) baik dan buruk, manis dan pahitnya. Rasulullah sambil memegang jenggot dan bersabda : Aku beriman kepada ketentuan Allah (qadar) baik dan buruk, manis dan pahitnya.” (HR. Al-Hakim secara musalsal)
          Hadis diatas musalsal qawli dan fi’li (musalsal perkataan dan sekaligus perbuatan) yaitu perkataan : “Aku beriman kepada ketentuan Allah (qadar) baik dan buruk, manis dan pahitnya” dan perbuatan memegang jenggot. Semua perawi ketika menyampaikan periwayatannya juga melakukan hal itu sebagaimana Rosulullah.
2.      Musalsal sifat periwayat (musalsal bi shifat ar-ruwah)
Musalsal ini dibagi menjadi perkataan (qawli) dan perbuatan (fi’li). Contoh musalsal sifat perawi dalam bentuk perkataan :
أَنَّالصَّحَابَةَّسَألُوْاالرَّسُوْلَصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَعَنْأَحَبَّالأَعْمَالِإلَىاللَهِعَزَّوَجَلَّلِيَعْمَلُوْهُفَقَرَأَعَلَيْهِمْسُوْرَةَالصَّفِّ.
Artinya :“bahwasannya sahabat bertanya kepada Rosulullah tentang amal yang paling disukai Allah agar diamalkan, maka Nabi membacakan mereka Surah Ash-Shaff.”
          Hadis ini musalsal pada membacakannya Surah Ash-Shaff.Setiap periwayat membacakan Surah Ash-Shaff ketika menyampaikan periwayatan kepada muridnya atau yang menerima hadisnya.
          Contoh musalsal sifat perawi dalam bentuk perbuatan (fi’li) :
حَدِيْثُاِبْنُعُمَرَمَرْفُوْعًا : الْبَيِّعَانِبِالْخِيَارِ
Artinya :“hadis Ibnu Umar secara marfu’ : Penjual dan pembeli boleh mengadakan khiyar (memilih jadi atau tidak).”
          Hadis diatas musalsal diriwayatkan oleh fuqaha kepada para fuqaha secara teru menerus.Atau termasuk musalsal ini seperti kesepakatan nama-nama para perawi. Seperti: musalsal dalam nama Al-Muhammadin kesepakatan dalam menyebut bangsa atau nisbat mereka seperti musalsal dalam menyebut Ad-Dimasyqiyin dan Al-Mishriyin.
3.      Musalsal dalam sifat periwayatan (musalsal bi Shifat ar-riwayah)
Dalam musalsal ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu :
a.       Musalsal dalam bentuk ungkapan penyimpanan periwayatan (ada’)
Contonya seperti hadis mualsal pada perkataan setiap perawi dengan menggunakanسَمِعْتُفُلَانَا= Aku mendengar si Fulan atau أَخْبَرَنَافُلَانٌ ,حَدَّثَنَافُلَانٌ = Memberitakan kepada kami si Fulan dan seterusnya.
b.      Musalsal pada waktu periwayatan
Contoh :
حَدِيْثُاِبْنُعَبَّاسِقَالَ : شَهِدْتُرَسُوْلَاللَهصَلَّاللَهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفِيْيَوْمِعِيْدِفِطْرِأوْأَضْحَى, فَلَمَّافَرَغَمِنَالصَّلَاةِأقْبَلَعَلَيْنَابِوَجْهِهِ, فَقَالَ : أَيُهاالنَّسُقَدْأصَبْتُمْخَيْرَا
Artinya :“Hadis Ibnu Abbas berkata : aku menyaksikan Rasulullah saw pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, setelah beliau selesai shalat menghadap kita dengan wajahnya kemudian bersabda : wahai manusia kalian telah memperoleh kebaikan....”
     Hadis di atas musalsal waktu periwayatan yaitu pada hari raya IdulFitri atau Idul Adha.Setiap perawi mengungkapkan kalimat tersebut dalam menyampaikan periwayatan kepada muridnya.
c.       Musalsal pada tempat periwayatannya
Seperti kata Ibnu Abbas tentang terijabah doa di Multazam :
سَمِعْتُرَسُوْلُاللَّهصَلَّاللَّهعَلَيْهِوَسَلَّمَيَقُوْلُ : المُلْتَزَمُمَوْضِعٌيُسْتَجَابُفِيْهِالدُّعَاءُ ,وَمَادَعَااللَّهَفِيْهِعَبْدٌدَعْوَةًإَلَّااسْتَجَابَلَهُ
Artinya :   “aku mendengar Rasulullah bersabda : Multazam adalah suatu tempat yang diperkenankan doa padanya. Tidak ada seorang hamba yang berdoa padanya melainkan dikabulkannya.”
قَالَابْنُعَبَّاسِ : فَوَاللَّهمَادَعَوْتُاللَّهعَزَّوَجَلّفِيْهِقَطمُنْذُسَمِعْتُهَذَاالْحَدِيْثَإلَّااسْتَجَابَلِيْ
Artinya :   “Ibnu Abbas berkata : Demi Allah, aku tidak berdoa kepada Allah padanya padanya sama sekali sejak mendengar hadis ini melainkan Allah memperkenankan doaku.”
Hadis musalsal pada tempat periwayatannya, masing-masing periwayat mengungkapkan sebagaimana perkataan Ibnu Abbas tersebut setelah menyampaikan periwayatan hadis kepada orang lain.[4]
C.      Hukum Hadis Musalsal
Terkadang hadis terjadi musalsal dari awal sampai akhir dan terkadang sebagian musalsal terputus di permulaan atau di akhiran. Al-Hafizh Al-Iraqi berkata : sedikit sekali hadis musalsal yang selamat dari kedha’ifan, dimaksudkan di sini sifat musalsal bukan pada asal matan karena sebagian matan shahih. Ibnu Hajar berkata :musalsal yang paling shahih di dunia adalah musalsal hadis membaca Surah Ash-Shaff. Disebutkan dalam Syarah An-Nukhbahmusalsal para huffazh memberi faedah ilmu yang pasti (qathi).Maka tidak seluruh hadis musalsal shahih.Hukum musalsal adakalanya Shahih, Hasan dan Dha’if tergantung keadaan para perawinya. Keshahihan hadis ditentukan 5 persyaratan yakni :
1.         Persambungan sanad.
2.         Periwayat yang adil.
3.         Dhabith (kuat daya ingatan).
4.         Tidak adanya syadzdz (kejanggalan).
5.         Tidak adanya ‘illah (cacat).
Di antara kelebihan musalsal adalah :
1.         Menunjukkan kemuttashilan dalam mendengar.
2.         Tidak adanya tadlis dan inqitha’.
3.         Nilai tambah kedhabithan para perawi.
Hal ini dibuktikan dengan perhatian masing-masing perawi dalam pengulangan menyebut keadaan atau sifat para perawi atau periwayatann.[5]

D.      Kitab-kitab Hidis Musalsal
Diantara kitab hadis musalsal yang terkenal adalah :
1.         Al-Musalsalat Al-Kubra karya As-Suyuthi, memuat 85 buah hadis.
2.         Al-Manahil As-Salsalah fi Al-Ahadis Al-Musalsalah, karya Muhammad Abdul Baqi Al-Ayyubi, mengandung sebanyak 212 buah hadis.
3.         Al-Musalsalat, karya Al-Hafizh Isma’il bin Ahmad bin Al-Fadhal Al-Taymi.[6]
2. Hadist Ali dan Nazil
A.      Pengertian Hadits ‘Ali dan Nazil
‘Ali adalah isim fa’il dari kata Al-‘Uluwwu, العلو artinya tinggi. Sedangkan Nazil adalah An-Nuzuul rendah (turun). Dalam terminologi ilmu hadis, hadis ‘Ali adalah hadis yang rawi-rawi sanadnya sedikit dibandingkan dengan sanad lain dari hadis yang sama. Sedangkan hadis Nazil adalah hadis yang rawi-rawi sanadnya lebih banyak dibandingkan sanad lain dari hadis itu juga. Nazil merupakan kebalikan dari ‘Ali.
Contoh:                                  قال انبي صلى الله عليه و سلم من سمع سمع الله به ومن يرائي يرا ئالله به.
Rasulullah saw bersabda: “ Barang siapa menyiar-nyiarkan (kebaikan supaya dipuji orang) tentu Allah akan balas menyiarkan (‘aibnya), dan barang siapa unjuk-unjukkan (kebaikannya), maka Allah akan balas memperlihatkan (keburukannya).
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam dua sanad:
(I)                                                                                                                                                                               (II)
                   Bukhari                                                       Bukhari
a.    Musaddad                                          a. Abu Nu’aim
b.    Yahya                                                b. Sufyan
c.    Sufyan                                               c. Salamah
d.   Salamah                                             d. Jundab
e.    Jundab                                                e. Nabi
f.     Nabi
Dalam sanad yang pertama, antara Bukhori dan Nabi saw ada 5 orang rawi. sedangkan dalam sanad yang kedua antara Bukhari dan Nabi Saw ada 4 orang rawi. Karena jumlah rawi dalam sanad kedua lebih sedikit dibanding sanad pertama, sanad kedua disebut ‘Ali.Sedangkan sanad pertama karena rawinya lebih banyak disebut Nazil.[7]
B.   Pembagian Hadits ‘Ali
     Yang dikatakan Hadits ‘Ali atau sanad ‘Ali itu, ada lima macam:
1.   Sanad yang bilangan rawinya sampai kepada Nabi Saw. Sedikit, kalau dibandingkan dengan sanad lain dari Hadits itu juga.
2.   Sanad yang bilangan rawinya sampai kepada salah seorang Imam Hadits, sedikit, terbanding dengan sanad lain dari riwayat itu juga. Imam-imam Hadits itu seperti: Malik, Syu’bah, Sufyan, atstsauri, Syafi’i, Bukhari, Muslim, Ibnu Juraij, Zuhri, al-Auza’i, Sufyan bin ‘Ujainah, dan lain-lain.
3.   Sanad yang bilangan rawinya sampai kepada salah satu Kitab Hadits yang teranggap, sedikit, jika dibandingkan dengan sanad lain. Kitab-kitab Hadits itu seperti: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i, Shahih Turmudzi, Musnad Ahmad, dan sebagainya.
4.   Satu sanad didalamnya ada rawi yang terima dari seorang syaikh, meninggal lebih dahulu dari rawi lain yang juga terima dari syaikh itu. Seperti: seorang mendengar Sunan Abi Dawud dari az-Zaki Abdil-‘Azhim. Seorang lagi mendengar Sunan tersebut dari an-Najib al-Harrani. Az-Zaki wafat lebih dulu dari an-Najib, sedang kedua-duanya menerima dari seorang syaikh, yaitu Abu Dawud. Maka sanad orang yang menerima dari az-Zaki itu lebih tinggi dari an-Najib.
5.   Sanad yang didalamnya ada rawi yang mendengar dari seorang syaikh lebih dulu daripada rawi lain mendengar dari syaikh itu juga.

      Ali macam yang pertama, yaitu yang sedikit rawinya kepada Nabi Saw. ‘Ulama namakan: ‘’Al-‘Uluwwul-Haqiqi” atau “Al-‘Uluwwul-Mutlaq”, artinya ‘Ali yang terlepas, karena tidak disandarkan kepada selain Nabi Saw.
      Ali macam yang kedua, ketiga, keempat dan kelima, mereka sebut: “Al-‘Uluwwun-Nisbi”, yakni ‘Ali yang disandarkan kepada orang, kitab atau kepada kejadian “mati lebih dulu”, atau “mendengar lebih dulu”.[8]

C.   Pembagian Hadis Nazil                                                             
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa kebalikan dari tiap-tiap hadis yang ‘ali adalah nazil.Artinya, lawan dari setiap hadis ‘ali yang telah dipaparkan sebelumnya adalah hadis nazil.[9] Jadi ia mesti mempunyai bagian sama banyaknya dengan ‘Ali, yaitu lima juga.
Lima macam Nazil itu adalah sebagai berikut:
1.  Sanad yang bilangan rawinya sampai kepada Nabi Saw. Banyak, dibandingkan dengan sanad lain dari hadist itu juga.
2.  Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai kepada salah seorang Imam Hadits, kalau dibandingkan dengan sanad lain dari riwayat itu juga.
3.  Sanad yang bilangan rawinya sampai kepada salah satu Kitab Hadits yang yang teranggap, banyak, dibandingkan dengan sanad yang lain.
4.  Sanad yang didalamnya ada rawi yang terima dari seorang syaikh meninggal kemudian dari rawi lain yang juga terima dari syaikh itu.
5.  Sanad yang didalamnya ada rawi yang mendengar dari seorang syaikh kemudian (belakangan) daripada rawi lain yang juga mendengar dari syaikh itu.[10]

D.   Pecahan ‘Ali dan Nazil
Dibagian ‘Ali, pada macam yang ketiga ada tersebut: “Sanad yang bilangan rawinya kepada salah satu Kitab Hadits yang teranggap, sedikit, jika dibanding dengan sanad lain”.
Ali ini, ‘Ulama pecahkan pula menjadi empat rupa[11]:
1. Muwaffaqah, artinya ialah sampai kepada guru salah seorang imam hadis dengan jumlah sanad yang lebih sedikit daripada yang diriwayatkan melalui imam hadis.
2. Badal atau Ibdal, artinya ialah sampai kepada guru-gurunya imam hadis dengan jumlah sanad yang lebih sedikit daripada sanad imam hadis.
3. Musawah, artinya ialah jumlah sanadnya sama mulai rawi sampai akhirnya dengan sanad salah seorang imam-imam hadis.
4. Mushafahah, artinya ialah persamaan kita dengan murid imam hadis.[12]
E.   Faidah Mengenal Hadis ‘Ali dan Nazil
Sebenarnya, sebuah hadis baik dia berderajat ‘Ali ataupun Nazil, tidak memberikan pengaruh terhadap derajat sebuah hadis, dengan catatan keduanya tidak memiliki kecacatan.Yang tentunya sah dibicarakan dalam konteks ini adalah faidah. Adapun faidah-faidah mengetahui sebuah hadis yang sanadnya sedikit (‘ali) ataupun banyak (nazil) adalah sebagai berikut:
a.       Hadis ali lebih sedikit perawinya. Oleh karena itu kemungkinan-kemungkinan terjadinya kekurangan (khalal) dari tiap perawi sangat minim, ketimbang sanad yang lebih banyak perawinya. Sebagaimana lazimmya setiap manusia memiliki kekurangan masing-masing, semakin banyak manusia (perawi) dalam sebuah transmisi sanad, peluang terjadiya cacat terhadap sebuah riwayat lebih besar. Maka dari itu, apabila ada dua hadis yang sama makna dengan jalur yang berbeda, kita akan lebih memilih hadis yang sanadnya lebih sedikit.
b.      Semakin sedikit sanad selama ia bersambung semakin dekat kemungkinan sampainya kepada Rasulullah SAW. Si perawi tersebut tentu akan merasa lebih tenang di hati, karena sedikit kemungkinan-kemungkinan cacatnya sebuah hadis atau sanad.
c.       Dapat mentarjih dan memilih sanad yang lebih ‘ali ketika ada sanad lain yang bertentangan.

 III.            KESIMPULAN
Hadits Musalsal ialah hadis yang berterus menerus para rawinya sewaktu meriwayatkannya dengan satu cara atau sifat. Sedang hadis ‘Ali adalah hadis yang rawi-rawi sanadnya sedikit dibandingkan dengan sanad lain dari hadis yang sama. Sedangkan hadis Nazil adalah hadis yang rawi-rawi sanadnya lebih banyak dibandingkan sanad lain dari hadis itu juga. Nazil merupakan kebalikan dari ‘Ali.
 IV.            PENUTUP
Demikianlah makalah yang mampu kami paparkan, tentulah banyak sekali kekurangan atas makalah yang kami buat.Dengan bantuan partisipasi pemikiran dari kawan-kawan semoga dapat sempurna kekurangan tersebut.Kritik dan saran selalu terbuka bagi kami.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Mas’udi, Hafidz Hasan, Ilmu Musthalah Hadis, Surabaya: Mutiara Ilmu, 2013.
As-Syahruzuri, Abdur Rahman, ‘Uluumul Hadits Li Ibn As-Shilaah, Libanon, Daarul Fikr, 2004.juz 1.
Khon, Abdul Majid,.Ulumul Hadis. Jakarta : Amzah, 2010
Hassan, Qadir, Ilmu Mushthalah Hadits, Bandung : Diponegoro, 1996.
Hassan, A. Qodir, Ilmu Mushthalah Hadits, Bandung: Diponegoro, 2007.
Rosidin, Mukarom Faisal, Buku Ajar Hadis: Hadis Berdasarkan Sifat Sanad, Solo: UI Press.

                                                                              .



[1]A. Qadir Hassan, Ilmu Mushthahalah Hadis, cet VII, (Bandung: CV Diponegoro, 1996). Hlm. 308.
[2]Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, Ulumul Hadis, (Jakarta: Amzah, 2010). Hlm. 237
[3]A. Qadir Hassan, Ilmu Mushthahalah Hadis, hlm. 308-309
[4] Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, Ulumul Hadis, Hlm. 238-241
[5]Ibid, hlm. 241
[6]Ibid, hlm. 242
[7] Mukarom Faisal Rosidin, Buku Ajar Hadis: Hadis Berdasarkan Sifat Sanad, (Solo: UI Press. ), h. 89-90.
[8] A. Qodir Hassan, Ilmu Mushthalah Hadits, (Bandung, Diponegoro, 2007), hlm 332-334.
[9]Abdur Rahman As-Syahruzuri, ‘Uluumul Hadits Li Ibn As-Shilaah, (Libanon, Daarul Fikr, 2004), juz 1 hal.
[10] A. Qodir Hassan. Op.cit. hlm 334.
[11] A. Qodir Hassan. Op.cit. h. 335.
[12] Hafidz Hasan al-Mas’udi, Ilmu Musthalah Hadis, (Surabaya: Mutiara Ilmu, 2013). Hlm, 18-19.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pembaca yang baik meninggalkan jejak yang baik,
Jangan lupa di comment ya :)