Tampilkan postingan dengan label Kitab Tafsir Klasik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Tafsir Klasik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

TAFSIR BAHRUL ULUM



A.    Gambaran Kitab
Kitab Tafsir Bahrul Ulum kami teliti di Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo. Pengarangnya adalah Syaikh Abu Laits As-Samarqandi, covernya berwarna hitam agak di selingi warna kuning serta hijau bi bagian tulisannya, penerbit Darul Kutub Al-Imiyyah Beirut Lebanon terdapat tiga jilid. Dan kitab ini juga di tahqiq oleh Syaikh Ali Muhammad Mu’awwadl, Syaikh Adil Ahmad Abdul maujud serta Dr. Zakariya Abdul Majid An-Nauty yang mana ketiganya merupakan staf pengajar di Fakultas bahasa Arab Universitas Al-Azhar Kairo.
ü  Jilid pertama terdiri dari halaman 1-600 di mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Al-A’raf.
ü  Jilid kedua terdiri dari halaman 1-550 di mulai dari surat Al-Anfal sampai surat Al-Ankabut.
ü  Jilid ketiga terdiri dari halaman 1-536 di mulai dari surat Ar-Rum sampai surat An-Naas.
B.     Biografi Syaikh Abu Laits As-Samarqandi
Nama lengkap beliau adalah Nashr bin Muhammad bin Ibrahim As-Samarqandi At-Tuzy Al-Balkhy, sedangkan julikannya adalah Al Faqih yang menandakan bahwa beliau telah sampai pada derajat yang tinggi dalam dunia ilmu Fiqih yang mana pada saat itu tiada seorangpun yang dapat menyamainya pada zamannya. Beliau begitu menyukai julukan tersebut dan beliau juga tabarrukan dengan julukan tersebut, di karenakan julukan tersebut diberikan langsung oleh Nabi Saw melelui mimpi beliau. Hal itu terjadi ketika beliau mengarang kitab “Tanbihul Ghafilin” lalu beliau membawa kitab tersebut untuk sowan ke Raudlahnya Nabi Saw setelah itu beliau menginap di sana, kemudian beliau bermimpi melihat Nabi Saw mengambil kitabnya seraya berkata “Ambillah kitabmu, Wahai Faqih”. Lalu beliau pun terjaga dan beliau menemukan di dalam kitabnya tempat-tempat yang di koreksi Nabi.
Adapun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Hal itu disebabkan karena para ulama’ tidak bisa meramalkan bahwa kelak beliau akan menjadi seorang alim dan seandainya bisa meramalkannya pasti para Ulama’ akan mencatat tahun kelahirannya. Namun sebagian Ulama’ menuturkan bahwa tahun kelahiran beliau (Abu Laits) di perkirakan pada tahun 301/310 H. Setelah itu terjadi perbedaan di antar beberapa sumber mengenai tahun kewafatannya sebagai berikut:
a)      Ad-Dawudi di dalam kitabnya yang berjudul “Thabaqatul mufassirin” menuturkan bahwasannya beliau wafat pada malam Selasa tanggal 11 Jumadal Akhirah tahun 393 H.
b)      Pemilik kitab “Thabaqat As-Saniyah fii Tarajim Al-Hanafiya”. Mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 383 H.
c)      Khaji Khalifa di dalam kitabnya “Kasyf Adz-Dzunun” menuturkan bahwasannya Abu Laits wafat pada tahun 376 H.
d)     Dan dari kitab “Tarikh At-Turats Al-Araby” bahwa beliau wafat tahun 373 H, ada juga 375 H, dan ada juga yang mengatakan tahun 393 H.
Adapun tempat dimana beliau dilahirkan adalah Samarkand yang merupakan salah satu kota dari Khurasan sekarang masuk dalam daerah Uni Soviet, ada pula yang mengatakan bahwa kota itu termasuk bagian Arab, Samarkand merupaan kota yang besar beserta beberapa iklim di dalamnya. Kota ini juga menjadi kiblat bagi para pelajar yang haus akan ilmu pengetahuan, karena banyak dari fuqaha’ , mutasawwif yang pergi kesana. Sehingga pada saat itu Samarkand menempati tempat tertingi di antara negara-negara Islam dalam hal keilmuan. Adapun guru-guru beliau adalah sebagai berikut:
1)      Muhammad bin Ibrahim AT-Tuzy yang merupakan ayahnya sendiri, beliau adalah seorang Faqih dan Wara’. Beliau merupakan guru Abu Laits waktu kecil.
2)      Abu Ja’far Al-Hinduani
3)      Al-Kholil bin Ahmad al-Qadli As-Sijzy
4)      Muhammad bin Al-Fadl Al-Balkhy
Dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan dalam kitab ini.

C.    Metode Penafsiran
Dr. Husain Adz-Dzahabi mengatakan dalam bukunya menuturkan bahwasannya Abu Laits As-Samarqandi dalam menafsirkan al-Qur’an menggunakan bentuk Tafsir bil ma’tsur dari orang-orang terdahulu, kemudian beliau menyughukan beberapa riwayat dari sahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka.
Beliau juga ketika menuturkan beberapa ucapan (aqwaal) atau riwayat-riwayat yang bermacam-macam tidaklah menyertainya dengan sebuah komentar ataupun mentarjih atas riwayat-riwayat tersebut.
Beliau juga didalam menafsirkan mengutip beberapa qira’at masyhurah akan tetapi dengan secukupnya serta menuturkan pandangan ahli bahasa (ahlu lughat) di dalam tafsirnya. Lalu beliau juga menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an ketika ditemukan ayat-ayatnya, selain itu beiau juga meriwayatkan beberapa kisah-kisah islailliyat tetapi hanya sedikit saja. Kemudian di dalam tafsir tersebut beliau banyak menuturkan kata “Qaala ba’dluhum: Kadza” akan tetapi beliau tidak menjelaskan siapakah ba’dhulum tersebut. Terkadang beliau juga meriwayatkan dari orang-orang yang di anggap dla’if menurut ahli hadis seperti riwayat al-Kalby serta riwayat Asbath dari As-Siddy. Wal hasil banyak orang yang mengategorikan kitab tersebut sebagai kitab tafsir bil ma’tsur.
Adapun metode yang di pakai dalam penafsiran ini adalah metode tahlily yaitu cara penyusunan tafsir sesuai dengan tartib mushafi mulai dari al-Fatihah sampai An-Nas serta menuturkan makiyyah dan madaniyyah surat tersebut serta menuturkan pemahaman kalimat dari segi bahasa dan menuturkan yang terkait hukum fiqih secukupnya.
D.    Corak
Adapun corak Tafsir Bahrul Ulum adalah corak Ilmi artinya beliau didalam menyuguhkan penafsirannya mengupas dari seluruh aspek keilmuan baik bahasa, riwayat, qira’at, israilliyat, filsafat serta kedokteran.

TAFSIR JAWAHIRUL QUR’AN WA DURORUHU



A.    Gambaran Kitab
Tafsir Jawahirul Qur’an wa Duroruhu
·         Pengarang Imam Ghozali
·         Cetakan ke-2 (1426/2005 M)
·         Percetakan Dar al Kotob al Ilmiyah Beirut Lebanon
·         Jumlah Halaman (175 H)
B.     Biografi
Nama asli Imam al-Ghazali ialah Muhammad bin Ahmad, Al-Imamul Jalil, Abu Hamid Ath Thusi Al-Ghazali. Lahir di Thusi daerah Khurasan wilayah Persia tahun 450 H (1058 M) pekerjaan ayah Imam Ghazali adalah memintal benang dan menjualnya di pasar-pasar. Ayahnya termasuk ahli tasawuf yang hebat, sebelum meninggal dunia, ia berwasiat kepada teman akrabnya yang bernama Ahmad bin Muhammad Ar Rozakani agar dia mau mengasuh al-Ghazali. Maka ayah Imam Ghazali menyerahkan hartanya kepada ar-Rozakani untuk biaya hidup dan belajar Imam Ghazali.
Ia wafat di Tusia, sebuah kota tempat kelahirannya pada tahun 505 H (1111 M) dalam usianya yang ke 55 tahun. Pada masa kecilnya ia mempelajari ilmu fiqih di negrinya sendiri pada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Rozakani (teman ayahnya yang merupakan orang tua asuh al-Ghazali), kemudian ia belajar pada Imam Abi Nasar Al-Ismaili di negeri Naishabur dan belajar pada Imam Al-Haromain. Disinilah ia mulai menampakkan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu seperti ilmu mantiq, falsafah dan fiqih Madzhab Syafi’i. Karena kecerdasannya itulah Imam Al-Haromain mengatakan bahwa al-Ghazali itu adalah “Lautan tak betrepi.”
Setelah Imam Al-Haromain wafat, Al-Ghazali meninggalkan Naishabur untuk menuju ke Mu’askar, ia pergi ke Mu’askar untuk melakukan kunjungan kepada perdana Mentri Nizam al Muluk dari pemerintahan Bani Saljuk. Sesampai disana, ia di sambut dengan penuh kehormatan sebagai seorang Ulama’ besar. Semuanya mengakui akan ketinggian ilmu yang dimiliki al-Ghazali. Menteri Nizam al Muluk akhirnya melantik al-Ghazali pada tahun 484 H/1091 M. Sebagai guru besar (profesor) pada perguruan tinggi Nizamiyah yang berada di kota Baghdad. Al-Ghazali kemudian mengajar di perguruan Tinggi tersebut selama 4 tahun. Ia mendapat perhatian yang serius dari para mahasiswa, baik yang datang dari dekat atau dari tempat yang jauh, sampai ia menjauhkan diri dari keramaian.
Al-Ghazali merupakan seorang yang berjiwa besar dalam memberikan pencerahan-pencerahan dalam Islam. Ia selalu hidup berpindah-pindah untuk mencari suasana baru, tetapi khususnya untuk mendalami pengetahuan. Dalam kehidupannya, ia sering menerima jabatan di pemerintahan, mengenai daerah yang pernah ia singgahi dan terobosan yang ia lakukan.
C.    Sejarah Penulisan
Karena pada waktu ilmu yang paling tingi adalah Tafsir, karena tafsir adalah ilmu yang mengungkap ilmu dalam al-Qur’an.
D.    Metode Penafsiran
Metode yang digunakan oleh Imam Ghozali dalam Kitabnya, agaknya penulis masih kesulitan untuk mencarinya dalam literatur-literatur bahasa Arab maupun Indonesia. Sehingga dengan penuh kerendahan dan memberanikan diri untuk membaca dan mengambil kesimpulan pada kitabnya langsung. Tanpa ada pendukung yang memperkuat pendapat kami. Nampaknya kitab Jawahirul Qur’an menurut pendapat kami menggunakan metode ijmali (global). Dimana beliau Imam Ghozali hanya menulis sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang menurut beliau paling pokok. Tetapi tetap sesuai dengan susunan surah dalam mushaf.
E.     Corak
Sengaja penulis kutipan dari kitab Tafsir Wal Mufassirun karya Husein Adz-Dhahbi yang menjelaskan bahwa: Kitab Jawahirul Qur’an karangan Imam Al-Ghozali adalah sebuah kitab tafsir dalam kategori bercorak “ilmiah”.
F.     Komentar Ulama’
Menurut Dr. Abd al-Majid Abd al-Salam al-Muhtasib, Imam al-Ghazali merupakan salah seorang yang paling gigih menyebarluaskan ide tafsir ilmi di tengah-tengah perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Beliau menguraikan secara panjang lebar argumentasinya ini dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin dan Jawahir al-Qur’an. Dengan mengutip pendapat mengatakan: “Siapa yang ingin mengetahui ilmu orang terdahulu dan kemudian renungkanlah al-Qur’an”. Menurutnya “Bagaimana mungkin kita memperolehnya dengan hanya tafsir zahirnya saja”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam.

TAFSIR AL-DURUL MA’TSUR FI TAFSIR AL-MA’TSUR



A.     Gambaran Kitab
Ø  Judul Kitab: Al-Durul Ma’tsur fi Tafsir al-Ma’tsur
Ø  Pengarang: Imam al Hafizh Jamaluddin Abul Fadl ‘Abdurrahman ibn Abi Bakr Muhammad as-Suyuthi asy-Syafi’iy.
Ø  Cetakan: Birut Libanon
Ø  Penerbit: Dar al-Fikr
Ø  Dicetak : Tahun 2002 M/1423 H.
Ø  Warna Kitab: Berwarna putih
Ø  Jumlah jilid: terdapat 4 jilid (jilid 1=769 halaman, jilid 2=709 halaman, jilid 3=640 halaman, jilid 4=669 halaman, jilid 5=689 halaman, jilid 6=719 halaman, jilid 7=724 halaman, jilid 8=702 halaman).
B.     Biografi
Beliau adalah Imam al Hafizh Jamaluddin Abul Fadl ‘Abdurrahman ibn Abi Bakr Muhammad as-Suyuthi asy-Syafi’iy. Beliau dilahirkan pada tahun 849 Hijriyah. Ayahnya wafat ketika beliau masih kecil, pada usia 5 tahun 7 bulan dan beliau dititipkan sekelompok ulama. Beliau banyak menghafal matan dan hadis dan berguru pada sekelompok ulama. Beliau dianggap sebagai ulama yang paling banyak mengarang kitab. Diantara ulama sezamannya, beliaulah yang paling tahu tentang hadis dan ilmu-ilmu cabangnya. Beliau pernah mengatakan tentang dirinya sendiri bahwa beliau hafal 200.000 hadis. Kata beliau: ‘Seandainya saya menemukan lebih banyak hadis lagi, pastikan saya hafalkan.”
Selain hafal hadis, beliau telah hafal al-Qur’an, ‘Umdah, Manhajul Fiqh wal Ushul. Al-Fiyah bin Malik saat berumur 8 tahun, beliau mendalami ilmu syari’at diantaranya: dibidang Fiqih, Faraid kepada guru yang paling populer dalam bidang Fiqih dan Faroid yaitu Syeikh Syihabudin Asyaru Masahi pada tahun 764 H, di saat beliau berumur 15 tahun sampai gurunya wafat dilanjutkan oleh putranya. Ketika Abdurrahman bin Kamal berumur 25 tahun beliau selesai mempelajari ilmu fiqih disana, beliau mendapatkan ijazahuntuk menfatwakannya. Kemudian beliau mendalami hadis kepada syekh Taqyudin al Hanafi selama 4 tahun. Beliau mendalami ilmu Tafsir, ilmu Ushul, Ma’ani dan sebagainya selama 14 tahun.
Imam Suyuthi memiliki banyak sekali guru yang tak tertandingi jumlahnya pada masa beliau hidup. Sedang jumlah keseluruhan karya Imam Suyuthi adalah 904 kitab dalam berbagai disiplin ilmu.
Kemudian menjelang akhir hidupnya beliau mengasingkan diri dari pergaulan dengan manusia dan menghindar dari dunia dan para pencintanya dan menghabiskan sisa hidupnya hanya bersama Allah, sampai beliau wafat pada tahun 911 H di rumahnya Raudhatul Muqyas.
C.     Sejarah Penulisan
Beliau mengarang kitab ini ketika berumur 37 tahun, di saat mengarang kitab beliau berjalan-jalan beberapa Negara. Yaitu: Syam, Hijaz, Yaman, India dan Maroko. Sebelum menulis disaat berumur 22 tahun beliau sudah berfatwa sekitar tahun 871 H, saat berumur 23 tahun beliau telah mencatat hadis dengan cara imla’sekitar tahun 872 H. Kitab ini merupakan kitab musnad hadis yang berisikan tafsir atau penjelasan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya memuat sekitar 10.000 hadis marfu’ dan hadis mauquf, diselesaikan dalam 4 jilid dan diberi nama “Tarjumun al-Qur’an”.        Kemudian untuk memudahkan pembaca dalam memahami kitab tersebut, as-Suyuthi meringkasnya dengan hanya mencantumkan teks hadis tanpa menyebutkan sanadnya. Meskipun demikian, dijelaskan bahwa sumber hadis-hadis tersebut merupakan hasil takhrij dari kitab-kitab yang mu’tabar dan kitab tersebut diberi nama dengan al-Durur Tafsir al-Ma’tsur.
D.    Metode Penafsiran
Dalam kitab Tafsir ini Imam Suyuthi menafsirkan al-Qur’an dengan metode bil ma’tsur, menjelaskan al-Qur’an dengan hadis pendapat Sahabat dan para tabi’in. beliau menggunakan metode seperti ini karena sunah itu sebagai penjelas bagi al-Qur’an. Dapat diketahui bahwa bentuk-bentuk penafsiran bi al-Ma’tsur dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
1.      Penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an
2.      Penafsiran al-Qur’an dengan Hadis
3.      Penafsiran al-Qur’an dengan perkataan Sahabat
4.      Penafsiran al-Qur’an dengan perkataan tabi’in
E.     Corak
Corak penafsiran kitab ini melihat dari kepribadian beliau semenjak kecil, beliau dibesarkan dan menapaki karir dalam lingkungan madzhab Syafi’i. Sumber-sumber penafsiran secara keseluruhan kitab tafsir ini menggunakan penjelasan hadis Nabi maupun Sahabat dan Tabi’in yang dikutip dan dirujuk dari kitab-kitab hadis. Jadi corak kitab ini hanya mengedepankan penafsiran dengan hadis, pendapat dari para Sahabat dan Tabi’in.
F.      Sistematika
Sistematika penafsiran beliau sangat tersusun di dalam penataannya di mulai dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nas, kemudian dalam penafsirannya sangatlah jelas. Akan tetapi dari sudut tafsir lain tafsir ini mencampurkan semua hadis baik yang shohih maupun yang dhoif dan tidak disebutkan mana yang shohih dan mana yang dhoif. Dan tidak terdapat asbab an-Nuzul.
G.    Komentar Ulama’Kelebihan dan Kekurangan
Menurut Adz-Zahabi tafsir ini mempunyai kekurangan yaitu:Banyak terjadi pemalsuan dalam tsfsir sebagaimana orang Syi’ah yang selalu menisbahkan suatu hadis terhadap ‘Ali bin Abi Thalib dengan berbagai maksud dibaliknya, diantar sebab pemalsuan itu adalah panatisme madzhab dan politik, kemudian banyaknya masuk cerita-cerita isra’iliyyat dan banyaknya hilang sanad-sanad.
Sementara menurut Quraisy Syihab mengatakan bahwa penafsiran Nabi dan Sahabat dapat di bagi dua kategori yaitu: la majal li al-‘aql fihi (masalah yang diungkapkan bukan dalam wilayah nalar) seperti masalah metafisika dan perincian ibadah, dan fi majal al-‘aql (dalam wilayah akal). Menurut beliau pada masalah yang bukan dalam wilayah nalar, apabila nilai itu shahih, penafsiran itu dapat diterima apa adanya tanpa ada pengembangan. Sementara yang dalam wilayah penalaran, walau penafsiran itu benar, penafsiran itu harus didudukkan pada porsi yang tepat.